Jumat, 22 Maret 2013



JENIS  MAKNA 



            Ieech (1976) yang karyanya banyak di kutup orang dekat studi semantik membedakan adanya tujuh tipe makna, yaitu (1) makna konsep tual(2) makna konotatif (3) makna stilistika (4) makna afektif (5) makna relatif (6) makna kolokatif (7) makna tematik
  
4.1  Makna leksikal dan makana gramatikal
            Leksikal adalah bentuk ejektif yang diturunkan dari bentuk nominal leksikon (pokabuler,kosakata,pembedaharaan kata ) satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bahasa yang bermakna.
            Umpamanya kata tikus makna lesikelnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tipes. Makna ini tampak jelas dalam kalimat tikus itu mati di tekam kucing, atau dalam kalimat panen kali ini gagal akibat serangan nama tikus. Kata tikus pada kedua kalimat itu jelas merujuk kepada binatang tikus bukan kepada yang lain
            Contoh-contoh di atas dapat di simpulkan bahwa makna leksikal dari suatu kata adalah gambaran yang nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan kata itu. Makana leksikal suatu kata sudah jelas bagi seorang bahasawan tanpa kehadiran kata itu dalam suatu konteks kalimat. Makna leksikal biasa di pertentangkan atau di oposisikan dengan makna grametikal.
            Makna gramatikal itu bermacam-macam. Setiap bahasa mempunyai sarana atau alat gramatikal tertentu untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal itu. makna gramatikal sering kali juga dapat di ketahui tanpa mengenal makna leksikal unssur-unsurnya. Misalnya klausa malalat, di lili lolo – lolo ini yang tidak kita ketahui makna leksikal unsur-unsurnya, apa itu malalat,apa itulili-lili dan puk lolo-lolo itu, namun kita tahu bahwa konstruksi klausa itu memberi makna gramatikal.

           



4.2       makna referensial dan non referensial
            Perbedaan makna referensial dan makna non referensial berdasarkan ada tidaknya dari kata-kata itu. bila kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu di luar bahasa yang di acu oleh kata itu makna kata tersebut di sebut kata bermakna referensial. Kalau kata itu tidak mempunyai feferen maka kata itu di sebut kata bermakna referensial karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis krabat rumah tangga yang di sebut “meja” dan”kursi” sebaliknya kata karena dan tetapi tidak mempunyai referen.
4.3     makna denotatif dan konotatif
            Sebuah kata disebut mempunyai makna denotatif apabila kata itu mempunyai”nilai rasa” baik positif maupun negatif. Jika tidak memiliki nilai rasa maka di katakan tidak memiliki konotasi tetapi dapat juga di sebut berkonotasi netral.
            Makna denotatif (sering juga di sebut makna denotasional, makna konseptua, atau makna konetif karena di lihat dari sudut yang lain) pada dasarnya sama dengan makna referensial sebuah makna denotatif lazim di beri penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil opserpasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan atau pengalaman lain.
            Makna konotatif dapat juga berubah dari waktu ke waktu. Misalnya kata ceramah dulu kata ini berkonotasi negatif karena berarti” cerewet” tetapi sekarang konotasinya positif

4.4       makna kata dan makna istilah
            Pembedaan adanya makna kata dan makna istilah berdasarkan ketetapan makna kata itu dalam pengunaannya secara umum dan secara khusus. Dalam pengunaan bahasa secara umum  acara kata-kata itu di gunakan secara tidak cermat sehingga makna bersifat umum. Tetapi dalam pengunaannya secara khusus dalam bidang kegiatan tertentu, kata-kata itu di gunakan secara cermat sehingga makna pun menjadi tepat.
            Makna sebagai istilah memang di buat secepat mungkin untuk menghindari kesalah pahaman dalam bidang ilmu dalam kegiatan tertentu dalam bidang kedokteran, misalnya, kata tangan dan lengan di gunakan sebagai istilah untuk pengertian yang berbed.

4.5    makna konseptual daan makna asosiatif
            Pembedaan makna konseptual dan makna asosiatif di dasarkan pada ada atau tidak adanya hubungan (asosiasi, relaksi) makna sebuah kata dengan makna kata lain. Secara garis besar leech( 1976) mala membedakan makna asosiatif termasuk makna konotatif istilistik, efektif, refleksi dan kolokatif.
            Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, maka yang sesuai dengan referennya dan makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun.
            Makna asossiatif ini sesungguhnya sama dengan perlambang-perlambang yang di gunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain. Maka dengan demikian dapat di katakan melalui di gunakan sebagai perlamban” kesucian ‘ merah di gunakan sebagai ‘ keberanian’ dan sering kali di gunakan sebagai’ ke pahlawanan wanita’.

4.6  makna idiomatikal dan pribahasa
            Yang di maksud dengan idiom adalah satuan-satuan bahasa( bisa berupa kata, frase, .unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. umpamanya menurut kaidah gramatikal kata-kata ketakutan, kesedihan, keberanian dan kebimbangan memiliki makna hal yang di sebut bentuk dasarnya.
             Kata-kata seperti, bagai, bak, laksana dan umpama lazim di gunakan dalam pribahasa. Memang banyak juga pribahasa yang tanpa menggunakan kata- kata tersebut, namun kesan pribahasanya itu tetap saja tanpak. Misalnya tong kosong nyaring bunyinya. Pribahasa tersebut bermakna ‘ orang yang tiada berilmu biasanya banyak cakapnya.

4.7  makna kias
            Dalam kehidupan sehari-hari dan juga dalam kamus umum bahasa indonesia susunan W.I.S  Poerwadarminta ada digunakan istilah arti kiasan. Tanpaknya penggunaan istilah arti kiasan ini sebagai oposisi dari arti sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa( baik kata, frase, maupun kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya( arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) di sebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti putri malam dalam arti’ bulan’.

4.8  makana lokusi, ilokusi dan perokusi
            Dalam kajian tindak tutur( speech act)  di kenal adanya makna ilokusi, makna ilokusi dan makna perlokusi. Yang di maksud dengan makna lokusi adalah makna seperti yang di nyatakan dalam ujaran, makna harfiah, atau makna apa adanya. Sedangkan yang di maksud dengan makna ilokusi adalah makna seperti yang di pahami oleh pendengar. Sebaliknya, yang di maksud dengan makna perlokusi adalah makna seperti yang di inginkan oleh penutur. Misalnya, kalau seorang kepada tukang afdruk photo di pinggir jalan bertanya.” bang, tiga kali empat, berapa? “makna secara lokusi kalimat tersebut adalah keinginan dari penutur.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar